Outaishihi Ni Nante Naritakunai!! [Bahasa Indonesia] Chapter 76
Penerjemah : reireiss
Source ENG : Jingle Translations
Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
[POV Lidi]
Siang hari, 3 hari sebelum Pesta Malam yang diselenggarakan oleh Istana Kerajaan.
Dengan didampingi oleh Kakak, Freed datang ke Kediaman Duke.
Setelah sebelumnya menerima pemberitahuan, bersama dengan Ibu, aku menyambut mereka di Aula Depan.
Ayah masih bekerja di Istana.
Aku merasa kalau pertemuanku dengan Freed yang berikutnya akan terjadi pada Pesta Malam, aku tidak pernah menyangka dia akan datang ke Kediaman.
Freed yang aku temui untuk pertama kalinya dalam beberapa Minggu memiliki kulit yang sehat. Dia bertukar beberapa kata salam dengan Ibu, lalu segera datang kepadaku.
“Lidi, aku sudah mendapat izin, jadi bagaimana kalau kita pergi ke kamarmu? Lalu kita bicara sebentar.”
“…? Baiklah.”
Tampaknya, dia sudah membicarakan tentang ini dengan Ibu. Freed melihat ke belakang dan memberi tahu Kakak, ‘Jangan ikut.’
“Hehe. Aku mengerti. Ibu, aku juga punya sesuatu yang ingin aku bicarakan… Bagaimana?”
Kakak mengangkat bahu dan mengangguk, lalu berkata begitu dan mengajak Ibu ke ruangan lain.
Aku juga membimbing Freed ke kamarku.
Aku membuka pintu dan memintanya untuk masuk terlebih dahulu.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah kedua kalinya dia datang ke ruangan ini sejak lamaran pernikahan yang bergejolak itu.
Ketika aku memasuki ruangan dengan linglung karena memikirkan hal-hal itu, Freed memegang lenganku dan mengurungku ke dalam pelukannya.
Kemudian dia menutup pintu dengan satu tangan. Terdengar suara denting pintu yang terkunci.
“Lidi, ini sudah lama, ya. Aku ingin bertemu denganmu.”
"…Freed."
Untuk sesaat, aku tidak mengerti apa yang terjadi. Aku berkedip karena terkejut.
Ini adalah kejadian yang begitu tiba-tiba, tapi berada di dalam pelukannya setelah waktu yang lama ternyata ini lebih nyaman daripada yang kuingat, aku pun kehilangan tekad untuk melarikan diri.
Dengan pintu yang tertutup dan tidak ada yang mengawasi kami, aku merasa santai dan secara spontan, aku melingkarkan tanganku di punggungnya.
Melihatku yang dengan patuh meringkuk di dalam pelukannya, Freed menghela nafas lega dan berbisik padaku.
“Beberapa waktu yang lalu aku kalah taruhan. Aku menahan diri seperti yang dijanjikan. Tanpa Lidi di dekatku itu terasa menyakitkan. Karena aku sudah menepati janjiku, maka berikanlah aku hadiah.”
Napas panas menggelitik telingaku. Saat aku bereaksi dengan kaget, Freed tertawa kecil di atas kepalaku.
Aku merasa sedikit cemberut, tapi aku tetap saja menjawabnya.
“…Hadiah? Jangan dibesar-besarkan seperti itu. Belum lama sejak kita bertemu, kan?”
Ini baru beberapa Minggu.
Seperti yang aku katakan, itu bukanlah masalah besar. Seketika kekuatan memenuhi lengan yang memelukku.
“…Bagiku ini sudah sangat lama. Hei… Aku sudah bisa membawa Lidi bersamaku hari ini, kan.”
Ketika Freed tersenyum dengan manis dan mengatakan bahwa dia datang untuk menjemputku, secara spontan aku akan mengangguk sebelum aku memarahi diriku sendiri dengan kasar.
Tidak bisa. Akan buruk kalau aku terhanyut di sini. Terutama untuk diriku sendiri.
“Tidak boleh. Janjinya sampai Pesta Malam, kan? Kamu sudah mendengarnya dari Kakak. Bertahan sedikit lebih lama lagi.”
“Tidak mau.”
Saat aku memprotesnya dari dekat, dia menurunkan bibirnya sebagai protes.
“Hei… Freed… Nnn…”
Dengan satu tangan yang masih berada di pinggangku, tangannya yang lain memegang daguku.
Dalam sekejap mata, lidahnya memasuki mulutku dan bergerak sesuka hati.
Aku mendorong dadanya menjauh, memintanya untuk berhenti, tapi seperti yang diharapkan dari seorang prajurit, dia bahkan tidak bergeming sedikit pun.
“Hah.. Nnng...”
Hanya suara lidah yang terjalin dan napas kasar yang terdengar di dalam ruangan.
Dia menyusuri gigiku dan langit-langit mulutku, semua itu dijilati oleh ujung lidahnya, aku pun kehilangan kekuatan. Saat aku hampir terjatuh, dengan mudah Freed menopangku dan akhirnya dia melepaskan bibirku.
Aku lemas tanpa kekuatan, tetap saja aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca untuk bertanya apa maksudnya.
“Ada apa, tiba-tiba? Bukankah kita datang ke sini untuk berbicara?”
Lalu kenapa dia dengan tegas membawaku ke kamarku.
“Itu adalah niatku, tapi lihatlah.”
Freed menyipitkan matanya, dan dengan ringan mengangkatku dan tanpa ragu menuju ke tempat tidurku.
Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tidak, aku menginginkannya, tapi di saat yang sama aku juga tidak menginginkannya.
“Kita akan berbincang lagi nanti. Yang lebih penting, aku akan mencicipi Lidi dulu.”
Seketika aku memucat saat mendengar kata-katanya yang sudah aku duga.
“Eh… Hei… Jangan, Kakak ada di bawah.”
“Tidak masalah. Aku memasang penghalang kedap suara, dan Alex sudah mengatakan dia tidak akan datang ke sini untuk sementara waktu.”
“Eh!?”
Bukan itu masalahnya.
Dengan kata lain, Freed menyuruh Kakak untuk tidak datang ke sini karena kami akan ‘melakukannya’.
Dan Kakak tahu itu, mungkin Ibu juga punya firasat.
…Itu terlalu memalukan.
Mungkin sudah terlambat bagiku untuk memikirkannya, tapi mulai sekarang aku tidak tahu bagaimana aku akan menghadapi mereka.
Sambil menjatuhkan ciuman ringan di pipiku yang berwarna merah karena malu, dengan lembut Freed menurunkanku ke tempat tidur dan tanpa jeda, dia membungkuk.
“Lidi…”
“Eh… Apa kamu yakin?”
Saat dia memanggil namaku dengan suara penuh gairah, tubuhku menggigil dengan sendirinya sebagai antisipasi.
Meski begitu, aku mendorong dada Freed dan berusaha untuk tidak didorong ke bawah dan sekali lagi aku bertanya kepada Freed.
Tapi dengan mudah dia menghentikan perlawananku, Freed menggulung gaunku dan membelai pahaku. Sentuhan yang sudah lama tidak kurasakan membuatku bersemangat.
Freed yang merasa senang, kini dia membelai tempat rahasiaku melalui cel*na dal*m dengan lembut.
“Nn? Apa kamu pikir aku akan berbohong?”
“Aku tidak berpikir begitu… Tapi… Aah…”
Freed membalas kata-kataku dengan senyuman dan dengan cepat dia memasukkan tangannya ke dalam cel*na dal*mku.
Aku gemetar karena merasakan jarinya yang dingin.
“Hyaah?”
“Ah, maaf. Apa itu dingin?”
Meskipun dia mengatakan itu, tangannya tetap tidak berhenti. Untuk sesaat, dia menelusuri celahku, tapi akhirnya dengan lancar satu jarinya masuk ke dalam. Seluruh tubuhku terasa seperti terbakar karena sensasi jari panjang Freed yang bergerak.
“…Fuaaa.”
"Sensitif seperti biasa… Kamu sudah basah."
Ketika dia menggerakkan jarinya ke dalam dengan gerakan menggosok, tubuhku seakan melompat.
Saat hal itu ada di pikiranku, tanpa kusadari bagian atasku sudah dilucuti.
Freed tenggelam ke dadaku yang terbuka tanpa ragu-ragu. Dengan suara menyeruput, dia meninggalkan banyak tanda merah.
Aku mengeluarkan suara karena menerima semua stimulus itu.
“Hyaa… Nng…”
Tidak dapat menahan diri, aku melingkarkan tanganku di punggung Freed dan memeluknya dengan erat.
Meski begitu, dia tidak berhenti meraba bagian dalamku, sebelum aku menyadarinya, jumlah jarinya bertambah menjadi dua.
Aku pun ditelan**ngi, pakaian dal*mku dilepas.
Bersamaan dengan kakiku yang dibuka, kuncup bungaku dir*ngsang, membuatku menggigil hebat.
"Hyaa… Freed!"
Aku mencoba memutar tubuhku untuk melarikan diri dari kenikmatan, tapi aku tidak bisa mengumpulkan kekuatan yang cukup.
Seolah menegurku karena aku bergerak, gerakan belaiannya semakin kuat. Jumlah jari bertambah menjadi tiga.
“Aku mencintaimu, Lidi… Hei, kamu lebih acak-acakan dari biasanya.”
“Ah!”
Saat dia menarik keluar dan memasukkan jari-jarinya dengan bebas, suara cab*l dari cairan memenuhi ruangan.
Pada saat yang sama, dia memutar kuncup pa**daraku, dalam sekejap mata aku kehilangan kemauan untuk melawan. Dengan suara mesum yang dihasilkan di dalam diriku, napasku berangsur-angsur menjadi kasar. Rasanya nikmat, aku ingin menyerahkan segalanya padanya.
…Tapi, aku menyerah.
Aku tidak akan pernah berpikir itu akan terjadi dengan mudah.
Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu, sepertinya Freed tidak memberiku pilihan sejak awal.
Aku mengibarkan bendera putih untuk kesenangan yang telah aku terima dan memeluk kepalanya.
Dengan pasrah, aku mengatakan kepadanya beberapa patah kata ke telinganya.
“…Hanya sekali …Kumohon.”
Dia mengangkat wajahnya dari dadaku yang ditutupi oleh bunga (kenikmatan) yang tak terhitung jumlahnya.
Mata kami bertemu, dan saat aku mengangguk dengan wajah hampir menangis, mulut Freed mengendur. Wajahnya tampak sangat senang.
“Aku senang aku bisa menerima izinmu… Baiklah. Untuk saat ini, kita hanya akan melakukannya sekali.”
"Ya…"
Bibirnya mendekat, membuka mulutku, aku menerima lidahnya.
Aku merasa khawatir dengan kata-kata 'Untuk saat ini', tapi setelah berhasil membuatnya berjanji, aku mempercayakan tubuhku kepadanya.
Aku bisa mendengar suara celana yang dilepas, setelah beberapa saat benda kerasnya yang panas menekan inti tubuhku.
Tubuhku terangkat, dan sambil memegangi kakiku, Freed bertanya seolah mengonfirmasi.
“Aku memasukkannya.”
"…Ya."
Saat aku mengangguk, benda panas milik Freed masuk ke dalam diriku. Perasaan yang tiba-tiba menyebar ini membuatku terengah-engah. Ini lebih parah dari biasanya.
“Hyaa… Besar…”
“…Jangan menggodaku…”
Bersama dengan suaranya yang serak, yang terdengar seperti dia sudah kehabisan akal, dia mendorong masuk ke dalam.
Saat di mana aku berpikir dia sudah masuk sepenuhnya, dia mulai bergerak masuk dan keluar.
Tubuhku yang benar-benar terbiasa dengan tindakannya, menelan miliknya seolah-olah itu pas dan mulai merasakan kenikmatan.
“Nn… Ah… A… Ah…”
Meski dia sudah mengatakan kalau dia memasang penghalang kedap suara, aku masih memiliki keraguan tentang itu, jadi aku menggigit bibirku untuk menekan suaraku sebanyak mungkin.
Namun tetap saja, saat dia mengenai titik lemahku yang sudah dia ketahui, suaraku pun bocor.
Melihat apa yang aku lakukan, Freed berbicara tidak puas.
“Lidi… Jangan menahan diri… Biarkan suara imutmu keluar seperti biasa.”
“Tidak… Karena, itu memalukan.”
“!!”
Freed yang terus menerus mendorong masuk dan keluar kini berhenti sejenak.
Benda yang ada di dalam tiba-tiba tumbuh, dan tekanan di dalam diriku semakin meningkat.
Karena tidak tahan, aku pun bersuara.
“Hya! …Itu tumbuh besar!…”
Seolah menyalahkanku, Freed menggelengkan kepalanya dengan susah payah.
“Itu karena Lidi menggodaku.”
“Itu bukan… Aku… Salahku… Fuuuh…”
Penolakanku terputus. Bagian dalamku begitu penuh hingga terasa sakit.
Sambil meneteskan keringat, dengan hati-hati Freed mengayunkan pinggangnya. Getaran kecil memaksa kenikmatan di dalam tubuhku.
“Aku tahu… Aku salah karena mendorongmu di tempat seperti ini… Tapi, aku senang melihat Lidi yang berbeda dari biasanya, kau sangat imut.”
“Nnn…!”
“Sesuai keinginanmu Lidi, aku akan segera menyelesaikannya.”
“Aaah…”
Freed meletakkan kakiku di bahunya dan mempercepat gerakan masuk dan keluarnya.
Karena bagian dalamku seakan digosok, aku jadi tidak bisa menahannya, dan suaraku pun bocor.
“Hyaaaaaa!! Aah… Freed!! Di sana!”
“Lidi… Aah, kamu menjepitnya dengan luar biasa. Perubahan posisi membuatmu bersemangat… Khh… Aku tidak tahan lagi.”
“Aah… Bu… Bukan…”
Untuk membuatnya mengerti bahwa dia salah, aku mengetatkan diriku di bawah sana.
Freed berkata, “Benarkah?” Lalu dia tersenyum penuh arti.
"Pembohong… Kamu mengetatkannya, menjepitku hingga rasanya kamu akan menggigitnya… Apa rasanya sangat nikmat?"
Saat dia bertanya dengan sadis, bagian dalamku digosok sekali lagi. Aku merasa bagian dalam tubuhku semakin panas.
Dari beberapa waktu yang lalu, Freed terus melakukan gerakan masuk dan keluar yang tidak baik, aku jadi merasa diriku akan menjadi gila.
Karena ingin segera mencapai puncak, aku memeluknya dengan erat dan melingkarkan kakimu, memohon padanya.
“Nikmat… Rasanya nikmat, jadi… Kumohon… Biarkan aku keluar, sudah…”
Ini sulit, saat aku memohon padanya sambil menangis karena ingin keluar, untuk sesaat Freed mengerutkan kening lalu dia meningkatkan kecepatan.
“Kamu jujur… Kh… Baiklah… Aku juga sudah mencapai batasku. Ayo kita keluar bersama.”
“Aaaah… Nnnn… Itu… Di sana! …Aah!!”
“…! Keluar!!”
Menerima stimulasi secara langsung, perasaan ingin mencapai puncak merayap naik.
Dengan sensasi seperti sesuatu yang meledak di depan mataku, aku keluar dengan intens.
Freed juga keluar secara bersamaan, dan dengan kuat dia mengeluarkan cairan itu di bagian dalamku yang sempit. Merasakan sensasi unik ini, tubuhku menggigil.
“Fuuuu…”
Setelah perlahan menggoyangkan pinggulnya untuk mengeluarkan semuanya, Freed mengeluarkan miliknya.
Kemudian dia memelukku, yang masih tidak bergerak karena masih merasakan sisa-sisa klimaks, dan dengan ringan dia mencium bibirku.
Hatiku sedikit berdebar karena gerakan lembut ini.
Tapi, kata-kata yang dia ucapkan setelahnya menghilangkan perasaan itu.
“…Sejujurnya, aku masih belum puas, tapi kita sudah berjanji. Lidi, apa kamu baik-baik saja?”
“…Bagaimanapun. Atau lebih tepatnya, ada apa dengan ketidakpuasan ini… Freed, ini terlalu mendadak.”
Saat aku mengira kita sudah memasuki ruangan, tiba-tiba saja aku didorong ke bawah.
Ini memberiku perasaan yang sama persis. Momentumnya seperti topan atau invasi.
Aku memelototinya dengan kesan apa-apaan itu, tapi dia hanya tertawa ringan.
“Dengar, jangan marah. Bahkan wajahmu yang seperti itu pun imut.”
Hujan ciuman jatuh di wajahku.
Seperti biasa, Freed adalah orang yang bersikap sangat manis setelah melakukannya.
“…Kupikir hanya Freed yang bisa mengatakan itu.”
Saat aku berbicara dengan nada kagum, Freed memiringkan kepalanya dengan ragu dan dengan ringan melambaikan tangannya.
Pada saat itu, rasa lengket benar-benar hilang dari tubuhku. Aku merasa tubuhku menjadi ringan.
“Ah… Sihir.”
“Aku pikir itu ada di pikiranmu. Apa itu tidak perlu?”
Dengan jujur, aku berterima kasih, aku menggelengkan kepala.
Itu adalah sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Aku merasa terselamatkan karena dia mengkhawatirkanku seperti ini.
"Ah!"
Kemudian aku baru tersadar bahwa aku tidak pernah membicarakan tentang sihirku pada Freed.
Hal seperti itu akan terjadi lagi, dan dia adalah pasangan masa depanku. Lebih baik aku segera berbicara dengannya.
Berpikir begitu, dengan hati-hati aku mulai berbicara.
“Freed, Dengarlah…”
“Hm?”
Aku menatap Freed yang memelukku dengan satu tangan.
Saat aku menatapnya lekat-lekat, dia menyipitkan mata biru kehijauannya yang cerah.
Aku suka matanya. Mereka berkilauan, dan tanpa sadar sepertinya aku terpikat oleh matanya itu.
“Ada apa? Lidi…”
“…Ah, ya. Aku lupa mengatakan satu hal. Sebenarnya, aku tidak bisa menggunakan sihir apapun.”
“Eh?”
Saat dia menatap kosong ke bawah, aku mengangguk dengan senyum pahit.
Ini pasti mengejutkan. Hampir tidak ada orang yang tidak bisa menggunakan sihir, itu wajar untuk terkejut.
“Bahkan jika aku mengatakan itu, bukan berarti aku tidak memiliki kekuatan magis. Sebaliknya, aku memiliki kekuatan magis yang lebih tinggi daripada kebanyakan orang. Hanya saja… Bagaimana mengatakannya? Pengendalianku buruk, jadi aku tidak bisa menggunakan sihir, bahkan sederhana sekalipun…”
"…Begitukah?"
Saat aku mengangguk, Freed tersadar dan mengangguk sambil mengucapkan “Hee…” yang tidak biasa.
“Meskipun memiliki kekuatan magis, tidak bisa menggunakan sihir… ya. Tentu saja. Tanpa kekuatan magis, 'Bunga Raja' tidak akan mekar… Hmm, aku pikir 'Bunga Raja' akan membantu kontrol kekuatan magismu… Meski begitu, kamu tetap tidak bisa? Sudahkah kamu mencobanya setelah 'Bunga Raja' mekar?”
Setelah memahami situasiku ini, dia segera mempresentasikan penggunaan 'Bunga Raja' untuk mengendalikannya.
Apa ini? Apa aku benar-benar tidak bisa dipercaya?
…Aku berharap aku membicarakannya lebih cepat.
“Sebenarnya Delris juga mengatakan itu. Dengan berlatih, seharusnya aku bisa mengendalikan sihir, tapi sejauh ini aku tidak bisa melakukannya.”
Meskipun, kurang lebih aku sudah berlatih, tetap belum ada tanda-tanda.
Jadi aku sudah muak dengan itu.
Saat aku merasakan suasana hatiku menurun saat aku mengatakannya, kepalaku dibelai dengan lembut.
“Jika Penyihir Delris berkata begitu, itu pasti akan baik-baik saja. Bagaimana kalau bertahan sedikit lebih lama? Sampai Lidi bisa menggunakan sihir, aku akan memberikan dukungan.”
“Yup, aku berniat untuk terus berlatih dengan benar. Tapi terima kasih. Aku terselamatkan karena kamu berkata begitu.”
Aku lega dia menerimanya dengan mudah.
Itu adalah hal yang menyebalkan, tapi di masa lalu ada orang yang mengolok-olokku karena aku tidak tahu cara menggunakan sihir.
Aku merasa mual, jadi sejak saat itu aku memilih orang-orang yang akan aku ajak bicara tentang hal itu, tapi bagaimanapun juga kenangan yang tidak menyenangkan tetap ada.
Tentu saja aku tidak menganggap Freed sebagai orang yang akan melakukan hal seperti itu, tapi aku masih sedikit gugup.
Melihat keteganganku mereda, Freed semakin mengelusku.
Aku merasa sedang dibelai seperti hewan peliharaan, jadi aku mengangkat wajahku dengan curiga.
"Freed?"
Aku menatap Freed yang mengacak-acak rambutku hanya untuk melihatnya tersenyum lebar.
Senyum keindahan transendental. Tak perlu dikatakan seperti apa orangnya, tapi rasanya bahkan sekelilingnya pun ikut berkilau.
Apa ini manga? Tanpa sadar aku ingin mengucapkan itu.
“Lidi, imut… Rasanya seperti memiliki hewan kecil yang berhati-hati, yang akan menghangatkanmu… Aku dikalahkan. Aku ingin melakukannya sekali lagi.”
“Eh!? Tidak mungkin, kamu tidak bisa!”
Aku bahkan tidak bisa jujur bahwa aku terpesona karena dia mengatakan hal-hal seperti itu.
Saat aku mencoba memisahkan tubuh kami dengan panik, sambil mengatakan, “Itu adalah lelucon”, dengan kuat dia menarikku ke pelukannya.
…Sejujurnya, leluconnya seperti itu sulit dimengerti.
Meski begitu, tangan yang membelaiku dalam diam terasa nyaman, tanpa mengeluarkan suara, diam-diam aku tersenyum.
***
Mulai sekarang, jadwal update berubah, yaa~
I Don't Want to Become Crown Princess!! akan update setiap hari Sabtu^ ^
***
Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!
Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~
***
Previous | Table of Contents | Next

Comments
Post a Comment