Immoral Night [Bahasa Indonesia] Side Story 7


Penerjemah: reireiss 

Source ENG: Novel Updates 

Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


***

TOLONG JANGAN BAGIKAN INFORMASI TENTANG BLOG INI!!

HAL ITU BISA MENGEKSPOS KAMI PADA PENULIS ATAU WEB RESMI.

JIKA ITU TERJADI, KAMI AKAN DIPAKSA UNTUK MENGHENTIKAN DAN MENGHAPUS NOVEL INI.

JADI MARI KITA HINDARI ITU BERSAMA-SAMA!!

***

WARNING!! R-18!!

Risiko yang terjadi saat atau sesudah membaca, harap ditanggung masing-masing~

***


Side Story 7

Haewoon memeluk Eunseol di mana pun dia mau.

Bahkan Eunseol yang pada awalnya pemalu, kini meleleh ke dalam sentuhan Haewoon dan menggelepar tanpa tahu di mana dirinya berada, dan juga tidak tahu apakah ini siang atau malam.

Kepala dan seluruh tubuh Eunseol bergetar.

"Kamu menangis."

"Hiks... Hiks... Orang-orang, orang-orang akan melihat kita..."

"Siapa yang berani mengkritik aku karena aku memegang wanitaku sendiri? Mereka semua akan menutup mata."

Bagian bawah Eunseol sangat basah, jenis basah yang berbeda.

"Haa..."

"Kamu menatapku dengan wajah yang seakan kehausan."

Haewoon menyentuh perut Eunseol yang membuncit dengan lembut. Matanya menunggu kaki Eunseol untuk terbuka sepenuhnya di hadapannya, diam-diam Haewoon melonggarkan pakaian bagian dalam Eunseol. Saat ini Haewoon sama seperti binatang buas.

"Atau mungkin itu karena tempat ini sangat gatal?"

Saat tempat yang basah di antara semak-semak itu terbuka, Haewoon meraih paha Eunseol dengan erat. Kemudian, Haewoon membungkuk dan bergegas mendorong wajahnya di antara kaki Eunseol.

Slurp. Slurp.

Haewoon melahapnya. Cairan panas mereka bertabrakan satu sama lain, membuat suara yang keras. Eunseol mengambil nafas dengan tergesa-gesa. Tanpa sadar, Eunseol mengulurkan tangannya dan menggaruk lantai seakan mencoba meraih sesuatu, tapi dia tidak bisa meraih apapun.

"Ah! Haaa, ah, Hae... Haewoon, Ughh, Ahh...!"

Leher Eunseol membungkuk ke belakang. Dia melihat langit-langit yang tidak dikenalnya. Dia menyadari bahwa tempat ini adalah Istana Kekaisaran. Dia merasa asing dengan tempat ini tapi dia tidak bisa mengendalikan erangannya saat dia menerima diri Haewoon dengan kakinya yang terbuka lebar di ranjang Kaisar.

Tempatnya yang basah di bawah sana telah dihangatkan oleh bibir Haewoon. Haewoon membuka lubang sempitnya lebih lebar dan memasukkan lidahnya, menghisap air yang ada jauh di dalam sana. Eunseol terengah-engah.

Dengan suara mencicit, Haewoon mengepalkan bibirnya dan menembusnya, membukanya dengan jari-jarinya. Jari-jari Haewoon menyodok lubang bawahnya tanpa belas kasih berulang kali. Pan**t Eunseol bergetar. Karena ini adalah anak pertama mereka, Haewoon tidak memasukkan kejan**nannya, sebagai gantinya Haewoon memasukkan jarinya yang basah.

"Katakan padaku jika ini terlalu berlebihan untuk anak kita."

Saat jari-jari Haewoon melewati perutnya, Eunseol menarik nafasnya.

"Ah... Haahh..."

Kenapa dia merasakan sesuatu di pan**tnya? Eunseol mengguncang wajahnya yang memerah.

"Aku tahu kamu suka dimasuki dengan kasar dan keras."

Plak.

"Ahhh! Haewoon... Ah, Haewoon!"

"Kupikir kamu akan pergi setelah semua kesenangan yang sudah kuberikan padamu. Aku sangat kesal."

Ini adalah semacam hukuman. Jari yang mengisi bagian dalam tubuhnya masuk tanpa ragu dan kemudian menggaruk daging lembut kewani**annya sebelum keluar.

"Haa... Haa... Kumohon berhenti... Kumohon... Jangan!"

"Jelaskan."

Haewoon memandang Eunseol dengan mata yang berseri-seri. Mulut Haewoon, yang mengucapkan kata-kata itu kini menutupi payu**ra Eunseol. Haewoon menuntut saat dia menjulurkan lidah dan menghisap pu**ng Eunseol dengan ceroboh. Jika Eunseol membuat alasan, Haewoon mengancam akan memasuki kewani**annya dengan jari-jarinya lagi.

"Hmmp!"

Eunseol merasakan perasaan yang akrab, tulang belakangnya gemetar.

"Karena kamu tidak bisa menjawabnya, aku akan memberi makan bibirmu dengan sesuatu yang lain."

Suara yang menyakitkan keluar dari mulut Eunseol saat Haewoon menarik jari-jarinya. Tanpa sadar, Eunseol mengetatkan bagian dalamnya, seolah-olah Eunseol memohon lebih banyak. Namun, saat Eunseol menutup matanya, dengan tanpa ampun Haewoon memasukkan jari-jarinya yang basah ke mulutnya.

"Hmmmp..."

Kemudian Haewoon memutar-mutar jarinya di dalam mulut Eunseol.

"Kamu harus menerima seluruh jariku, ayolah." Haewoon berbicara dengan lembut.

Eunseol menjulurkan lidahnya dan menjilat jari Haewoon. Haewoon tersenyum.

Mata biru Eunseol tampak goyah seakan mata itu mengatakan kepada Haewoon bahwa Eunseol telah menantikan momen ini sama sepertinya, jadi Haewoon menarik tangannya dan mencium dahi Eunseol.


***

Ga sabar utk baca Chapter selanjutnya?

Bisa langsung kunjungi,


***

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!


***

Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!

Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~

***


Previous | Table of Contents | Next


Comments