Outaishihi Ni Nante Naritakunai!! [Bahasa Indonesia] Chapter 67
Penerjemah : reireiss
Source ENG : Jingle Translations
Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
[POV Lidi]
Freed yang tersenyum penuh arti memegangi pinggulku, sekaligus menggerakkan pinggulnya.
Tubuhku, yang akhirnya menerima r*ngs*ng*n yang ditunggu-tunggu dengan tidak sabar, bereaksi sebelum hal lain… Aah, terasa nikmat.
"Haa... Ah…"
"Lihat... Aku berada sangat dalam. Bisakah kamu tahu sedalam apa aku, Lidi?"
‘Miliknya’ berkedut, seakan menegaskan keberadaannya. Berulang kali aku mengangguk.
“Haa… Iya… Aku bisa merasakannya.”
"Kamu sangat basah, aku belum menyentuh semuanya, tapi kamu sudah sangat basah dan nikmat seperti ini."
“Nnn…”
‘Miliknya’ cukup panjang. Dengan mudah Freed mencapai bagian terdalamku.
“Lidi menyukainya, kan”
“Iya… Iya… Freed, lagi, kumohon!!”
“…!! Baik.”
Untuk membuktikan bahwa aku menginginkannya berada jauh lebih dalam lagi, aku mendorong pinggulku dengan sukarela, dan dengan mata menyipit yang sungguh-sungguh Freed mendorong pinggulnya.
“Hya… Aaaaa!!”
Menerima stimulasi seperti itu, aku pun mencapai puncak.
Tubuhku gemetar karena merasakan nikmat, refleks air mataku tumpah saking nikmatnya.
Freed menjilat air mataku itu.
"Manis. Haha, air mata Lidi manis."
“…Nn, itu tidak… Mungkin.”
“Itu manis. Tapi, pasti itu karena aku mencintai Lidi.”
“Hyaa...”
Aku kembali bereaksi karena kata-katanya.
Tubuhku mengencang di antara ‘miliknya’.
“Haa… Lidi… Jangan terlalu kencang… Ini sakit.”
“Ya… Bahkan jika kamu mengatakan itu… Itu tidak mungkin.”
Itu bukan sesuatu yang kulakukan dengan sengaja. Kalau memang bisa, sejak awal aku tidak akan melakukannya.
“Aah, astaga, Lidi sangatlah manis.”
“Ha?”
Setelah Freed berkata seperti itu, dengan ‘miliknya’ yang masih berada ‘di sana’, Freed merubah posisi, kini aku merangkak.
Kemudian, dia menggenggam pinggangku dengan kedua tangannya dan langsung bergerak.
“Ah… Ah… Ah… Ah!!”
“Lidi sangat menyukai posisi ini.”
“Hyaaa!!”
Dengan posisi ini, aku menerima banyak kenikmatan. Rasanya aku akan segera mencapai puncak lagi.
"Ah!! Ini… Jangan!!”
“Nn? Apa di sini nikmat?”
Posisi ini lebih mer*ngs*ngku dibanding posisi normal, aku kehilangan banyak kekuatanku.
Wajahku tenggelam dalam seprai, Freed memegang pinggangku dengan kuat dan terus bergerak.
“Ah… Freed…”
“Lidi… Terasa nikmat?”
Saat dia bertanya sambil meningkatkan kecepatan gerakannya, aku hanya mengangguk tanpa kata-kata.
Dengan posisi ini, aku hanya bisa meninggikan suara yang memalukan.
"Terasa… Nikmat"
“Iya, aku juga merasa nikmat. Di dalam Lidi sangat panas, sempit, dan membungkusku. Seakan menginginkan yang lebih.”
"Ah…!!"
Aku semakin meninggikan suaraku, lalu Freed mengulurkan tangannya ke dadaku.
…Astaga, apa ini? Rasanya begitu nikmat sampai-sampai aku tidak bisa berpikir.
Sejak awal memang begitu, tapi bagaimana aku harus mengatakannya, Freed terlalu ahli dalam se*s.
Dia bukan lawanku, yang tidak jauh lebih baik dari seorang amatir, aku tidak bisa melawan.
“!! Ah… Ya ampun... Bukankah sudah kubilang jangan terlalu mengetat... Lidi, aku akan mencapai batasku... Aku akan segera ‘sampai’.”
"Iya! Freed! Datanglah!!"
Aku mengangguk pada kata-katanya dan mencocokkan ritme gerakannya.
“Lidi, aku mencintaimu!”
“Aahhh…!!”
Pinggulku didorong dengan kuat.
Aku juga ‘datang’ di saat yang bersamaan.
“Hyaa… Panas…”
Tubuhku mengejang, masih merasakan panasnya. Ketika sudah sampai semua, Freed menarik napas dalam-dalam.
Aku ‘menerima’ semuanya. Seketika aku kehilangan kekuatanku, dan roboh di atas tempat tidur.
Tapi, Freed tidak mengizinkan itu, diam-diam di belakang, dia memegangiku. Meskipun dia sudah mencapai puncak, tak ada tanda-tanda dia akan mundur, aku punya firasat buruk.
"Freed?"
Saat aku melihat ke belakang, aku melihat tatapannya yang penuh gairah.
Dari ekspresi itu saja, meski itu tidak menyenangkan, aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Aahhh!!”
Seperti yang diduga, dia kembali bergerak.
Tidak ‘layu’ setelah sekali mencapai puncak, dia kembali ‘memelukku’, dan terus bergerak ke dalam.
“Ah, tunggu… Jangan, seperti ini…”
“Tidak bisa… Lidi mau menghiburku, kan? Lagipula, aku sudah cukup menunggu seharian ini."
Aku tidak berniat untuk menolak ronde kedua, tapi aku berharap dia tidak langsung bergerak lagi. Freed yang langsung bergerak setelah ‘keluar’ ini benar-benar iblis.
Seketika aku mengeluarkan suara tak senonoh yang sangat keras.
“Ah… Ah… Aaaahhh!!”
"Imut. Haa… Lagi, aku butuh lebih. Menangislah."
---Sial. Sebelum ini aku terlalu sibuk untuk berpikir tentang bl*wj*b.
Saat Freed tanpa ampun mengenai titik lemahku dari belakang, meskipun kemampuanku untuk berpikir semakin berkurang, dengan putus asa aku memikirkan solusi untuk rencana yang salah.
Meskipun aku bilang, aku akan menghiburnya dan hal itu membuatku bersemangat dan ingin melakukan yang terbaik, tapi semua itu hancur. Tak ada waktu sedikitpun bagiku.
Pada akhirnya aku harus ‘mengikuti’ Freed sampai dia puas, aku bertanya-tanya apakah memang begitu.
Aku teringat kata-katanya yang mengatakan dia tidak akan membiarkanku tidur.
Biasanya kata-kata seperti itu akan dianggap sebagai lelucon, tapi dalam kasusnya hal itu menakutkan, karena sama sekali bukan lelucon.
Tentu saja, seperti yang kujanjikan, aku siap sampai batas tertentu. Tapi, dengan kecepatan seperti ini, aku sudah lelah meski baru ronde kedua.
“Eh, berapa ronde ini akan berlanjut…?”
"Lidi... Ini keluar."
Aku bisa mendengar suara Freed dari belakang dan ‘miliknya’ membengkak lagi ‘di dalam’.
Dengan kekuatan yang sama seperti sebelumnya, dia kembali mencapai puncak.
“Aah… Hyaa… Banyak yang keluar.”
“Masih ada lagi. Aku berencana untuk memberikan semuanya pada Lidi malam ini, jadi terimalah semuanya.”
Aku menerima semuanya sambil berpikir serius.
Berapa lama siksaan manis yang disebut ‘kesenangan’ ini berlanjut.
Atau lebih tepatnya, bisakah aku benar-benar pulang besok?
Saat aku benar-benar kehilangan seluruh kekuatanku, akhirnya Freed berhenti.
Ketika aku merasa lega, dengan hati-hati aku bersandar di belakang tempat tidur.
Dari sela-sela kakiku, banyak ‘hal panas’ yang keluar.
Sambil melihatnya dengan senyum puas, Freed berkata,
"Aku tidak bisa melihat wajah Lidi selama dua ronde ini, jadi..."
“Eh!?”
Dengan mudah Freed memelukku dan membawaku ke pangkuannya. Kemudian dia ‘memasukkannya’ dalam posisi duduk tatap muka.
"Kali ini biarkan aku melihat wajahmu."
"Hee…? Aah!"
Saat aku masih bingung, aku mendengar suara tidak senonoh dan basah dari ‘bawah’ sana.
Atau lebih tepatnya, Freed sudah mencapai puncak berkali-kali, lalu kenapa dia belum ‘layu’ juga. Apa dia ini monster!?
Tetap saja, ketika dia mendekatkan bibirnya ke bibirku, spontan aku membuka mulut dan menerima Freed.
…Aku sadar bahwa, sepenuhnya aku telah rusak.
“Nnn…”
Sambil mendorong perlahan kali ini, dia benar-benar menguasaiku.
Tiba-tiba, dengan ekspresinya di pikiranku, aku membuka mata dan melihat tatapannya yang penuh akan kebahagiaan dari lubuk hatinya.
"Ah…"
Saat ini jantungku berdegup kencang.
Saat aku menyadari wajahnya itu ditujukan kepadaku karena suatu alasan, kebahagiaan menyebar ke seluruh tubuhku.
“Eh…?”
“Hee… Kamu mengetat lagi… Apa rasanya nikmat?”
"Ah iya…"
Dengan senang hati, Freed tersenyum padaku yang kebingungan. Sepertinya aku menegang secara refleks. Ketika aku secara tidak sadar menegaskan kata-katanya, tanpa ada indikasi keraguan dia mendorong dengan kuat. Suara penyatuan kami bergema.
Ini terlalu intens sehingga aku benar-benar melupakan perasaan itu beberapa saat yang lalu.
Atau lebih tepatnya, apakah posisi duduk dengan bertatap muka ini memang begitu intens?
“Nnnn…!!”
“Malam masih panjang. Kita sudah sebulan tidak bertemu, aku akan memberimu banyak cinta.”
Saat Freed berkata seperti itu, aku menggeleng lemah.
Maaf, aku sudah mencapai batas. Kumohon maafkan aku...
Aku mencoba memberitahunya,
“Lagi…? Tidak mungkin.”
“Eh? Ini baru ketiga kalinya. Lagipula, aku tidak bisa percaya dengan ‘tidak mungkin’ yang Lidi katakan. Aku akan bertanya pada tubuhmu apa itu benar-benar tidak mungkin...”
“Aah… Itu tidak mungkin, tapi… Hyaaa!!”
Dia menggigit dadaku. Air mataku keluar, dan dia terus menusukku dengan kuat.
…Ya.
…Aku mengerti.
Hari ini Freed serius. Bahkan jika aku tidak menyukainya, apapun yang kulakukan, dia akan terus ‘memelukku’ sampai pagi.
Aku mengerti bahwa itu akan terjadi, entah aku menginginkannya atau tidak, sekarang aku sangat merenungkan arti kalimat ‘Kau menuai apa yang kau tabur.’
…Ya ampun.
Aku tidak akan pernah lagi mengatakan kalimat mengerikan seperti itu dengan enteng.
“Lidi, apa yang kamu pikirkan? Kalau kamu bisa berpikir, itu berarti kamu masih bisa bertahan. Hei? Apa kamu benar-benar fokus padaku? Hari ini aku akan membuat Lidi ‘meleleh’…”
Freed bergerak semakin cepat, ‘rasa’ itu datang lagi.
Atau lebih tepatnya... Ini buruk.
“Aaaa... Di sana nikmat!!”
“Haha, suara yang imut. Aku akan membuatmu terus berteriak.”
“Ya ya, di sana, di sana!”
“Lagi… Terus tunjukkan padaku sisi menggemaskan Lidi.”
“Haaa. Nn… Freed…”
… Aneh. Seharusnya aku merenung, tapi aku mengatakan hal-hal tak senonoh seperti ini. Ada apa denganku?
Freed berada di tempat yang sangat nikmat, dan entah bagaimana sekaran aku sedang memeluk Freed dengan erat dan memohon lebih banyak dengan suara manis.
Mungkin terhasut olehku, Freed semakin ‘menjadi-jadi’ ‘di sana’.
“Aanhh… Freed…!!”
"Itu karena Lidi membuatku marah... Aah, ‘keluar’ lagi."
“Aah!”
Tiba-tiba pinggulku didorong. Pada saat yang sama, lagi-lagi aku merasakan ‘panas itu menyebar’.
“Nnn… Banyak yang keluar…”
“Itu karena sudah satu bulan kita tidak ‘melakukannya’. Lidi, lakukan yang terbaik untuk ‘menerima semuanya’.”
Setelah itu, Freed menciumku.
Aku pun menanggapinya.
“……”
…Aku kalah.
Sambil dipeluk, aku menyandarkan tubuhku di dada Freed yang lebar karena kelelahan.
Dengan linglung, aku berpikir… Tiga kali. Tiga ronde dengan hampir tidak ada ‘penarikan’.
Dengan ini, selesai, bukan?
Saat aku mencoba untuk memisahkan diri darinya karena berpikir ini sudah cukup, Freed justru berkedut.
…Pipiku mengejang karena terkejut.
…Seharusnya sudah selesai, tapi Freed masih ‘sangat keras dan panas’. Kenapa begitu…
Kenyataannya berada di depanku.
Oi oi…
Itu belum ‘layu’, ya…
Kupikir kata tak tertandingi sudah tidak cukup, aku sangat terkejut dengan kekuatannya ini.
Melihat diriku yang seperti itu, Freed menjatuhkan diri di tempat tidur dengan wajah menghadap ke atas dan berkata tanpa malu-malu.
“Kalau begitu, selanjutnya Lidi yang akan bergerak.”
“!!!”
Saat Freed tersenyum seolah-olah sekali lagi menegaskan bahwa tidak apa-apa untuk ‘memelukku’ sampai pagi, aku menundukkan kepalaku dengan kecewa.
…Ah, begitukah. Tentu saja seperti ini.
Pikiranku terlalu naif!!
Ini bukanlah metafora atau bagaimana-jika. Sepertinya aku benar-benar tidak akan dilepaskan sampai pagi.
Kenyataan di mana Freed yang sedikit pemalu mengatakan dia ingin dihibur sudah hilang. Ugh… Aku tidak perlu menghiburnya.
"Baik…"
…Meskipun aku merasa lebih baik kehilangan kesadaran, tapi seperti yang dijanjikan, aku mematuhi kata-katanya.
Aku bersumpah dari lubuk hatiku untuk tidak pernah lagi mengatakan hal-hal ceroboh kepada Freed.
***
Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!
Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~
***
Previous | Table of Contents | Next

Comments
Post a Comment