The Reason Why Ophelia Can’t Get Away From The Duke [Bahasa Indonesia] Chapter 22
Chapter 22
Penerjemah : reireissSource ENG (MTL) : ONLYMTL
Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
***
TOLONG JANGAN BAGIKAN INFORMASI TENTANG BLOG INI!!
HAL ITU BISA MENGEKSPOS KAMI PADA PENULIS ATAU WEB RESMI.
JIKA ITU TERJADI, KAMI AKAN DIPAKSA UNTUK MENGHENTIKAN DAN MENGHAPUS NOVEL INI.
JADI MARI KITA HINDARI ITU BERSAMA-SAMA!!
***
WARNING!! R-18!!
Risiko yang terjadi saat atau sesudah membaca, harap ditanggung masing-masing~
***
"...Alex."
Aku tersenyum tipis dan dengan lembut aku menyeka otot-otot perutnya. Alexander berbaring di bawahku, menatapku dengan gigi terkatup sampai dagunya menonjol. Sudut matanya memerah, dan tatapannya yang hanya terfokus padaku terasa panas.
"......"
Dia menahan nafas dan membawa tangannya yang terkepal ke bibirnya. Setiap tekstur kulitnya yang bersentuhan dengan ujung jariku terasa halus namun keras. Kejan**nannya yang menempel di bagian atas pusar sudah mengeluarkan cairan.
Aku memegang kejan**nannya lalu menurunkan tanganku ke bawah, jauh ke bawah. Aku mencoba untuk menyentuh semak-semaknya, dan juga mencoba menggambar lingkaran di pahanya dengan jariku. Setiap kali Alexander mengeluarkan erangan dan memiringkan kepalanya, jakun di lehernya yang menonjol naik dan turun dengan susah payah.
"Penyiksaan macam apa ini?"
Saat aku berada di atas pahanya yang tebal dan tubuh kami bersentuhan, Alexander seakan siap untuk melepaskan kewarasannya kapan saja. Seolah merenungkan apa dia akan membaringkan aku lagi atau tidak, matanya yang dalam dan cekung menelusuri setiap sudut dan celah tubuhku.
"Hanya permainan yang menyenangkan?"
Sebuah tangan besar mendekatiku dan meraih pan*atku dengan erat. Jejak spe**a kering dan cairan cinta tetap ada di antara kakiku. Setelah mandi, kami tidur dengan saling berpelukan tanpa berhubungan se*s, tapi begitu aku terbangun, dia sedang menggosokkan kejan**nannya ke punggungku.
Sejak kami 'berhubungan', Alexander seakan tidak mengetahui kata lelah. Meski sudah eja**lasi beberapa saat yang lalu, kejan**nannya yang memiliki ukuran seperti lengan bayi seolah masih belum melepaskan seluruh kekuatannya.
Jelas, dia akan kembali bergerak. Tapi tampaknya konsumsi staminaku sangatlah buruk. Aku pun membaringkan Alexander, mencoba untuk menyentuhnya. Aku ingin sedikit menggodanya. Aku bertanya-tanya, kenapa dia sangat suka membenamkan wajahnya di antara kedua kakiku?
"Ah, tunggu! Apa yang kamu laku-"
Alexander terdiam. Itu karena aku meraih kejan**nannya yang mengeluarkan spe**a entah dari mana. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba mendekatkan kepala kejan**nannya ke bibirku. Kejan**nannya yang sudah diliputi dengan rasa panas menjadi memerah dan berdiri dengan penuh semangat.
"Ah! Ah, tidak! Itu kotor."
"Ini kotor? Tapi kamu selalu menyedot kewa**taanku seperti ini."
Aku memiringkan kepalaku. Kejan**nannya yang menyentuh daguku kemudian menyentuh pipiku. Aku bisa merasakan aroma tubuh Alexander yang unik, aroma sabun yang biasa aku cium. Aku menekan ujung kejan**nannya dengan ujung jariku.
"Oh, kumohon......"
Dengan mulut yang terbuka, tidak aneh kalau dia meneteskan air liur. Meski dia mengatakan 'tidak', tapi matanya seakan menunjukkan kalau dia menantikan hal ini. Matanya yang penuh dengan hasrat itu pun berkabut.
Aku menggoyang kejan**nannya ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Alexander memiliki wajah yang sangat cabul.
"Kurasa semuanya tidak akan bisa dimasukkan ke dalam mulut."
Aku meraihnya dengan kedua tangan dan mengukur ukurannya. Ini bukan hanya tebal tapi juga panjangnya tidak biasa. Kurasa bahkan kalau aku bisa memasukkan semuanya, belum tentu aku bisa bergerak naik-turun.
Dengan hati-hati, aku membuka bibirku. Aku menjulurkan lidahku dan mencoba menjilat cairan bening yang keluar dari ujungnya, tapi Alexander malah bangkit seolah dia sudah tidak tahan lagi.
"Luar biasa!"
Karena hal itu, kejan**nannya yang besar menampar daguku. Itu tidak menyakitkan, tapi rasanya aneh. Aku menyipitkan mataku.
"......Kamu memukulku?"
"Oh, tidak. Aku tidak bermaksud begitu. Ophelia......"
Dia menatapku dengan mata memohon. Wajahnya lebih rileks dari sebelumnya seolah kegembiraannya tidak bisa dipadamkan hanya dengan memegangnya. Dengan lesu, aku memiringkan kepalaku ke samping, dan mataku menoleh ke arah tanganku yang memegangi kejan**nannya. Bahunya yang kuat dan penuh dengan kekuatan terlihat gemetar.
"Kamu ingin aku melakukan apa dengan ini?"
"......Kamu jahat."
"Hah? Katakanlah. Atau aku tidak akan mengerti."
Ucapku sambil tersenyum. Bagaimana bisa aku bersikap terang-terangan dengan memprovokasi Alexander seperti ini? Kejan**nannya semakin membengkak. Aku melihatnya dengan takjub. Itu tidak terlihat aneh seperti saat meledak.
"Ugh, kamu tidak perlu melakukannya. Jadi turunlah."
"Benarkah? Bukan itu jawaban yang kuinginkan......"
Aku bergumam seperti itu, meraih kejan**nannya, dan mengguncangkannya. Ekspresi Alexander berubah menjadi buruk. Lalu suara erangan yang pelan keluar dari tenggorokanku, dan cairan itu mengalir dari pan*atku.
"......Basah. Dan kamu masih berada di atas pahaku."
Alexander bergumam dengan tatapan mata yang panas. Aku bisa merasakan pahaku yang mulai basah.
Dia meraih tubuhku tanpa memberiku kesempatan untuk memasukkan kejan**nannya ke dalam mulutku. Tiba-tiba saja, sesuatu yang lepas dari tanganku itu menusuk perutku.
"Apa kamu bersenang-senang? Kurasa sekarang adalah giliranku."
"......Sayang sekali. Sampai sekarang kamu selalu saja melakukan apa yang kamu inginkan."
"Tetap saja, kamu melakukannya dengan baik. Jadi beri aku hadiah."
Dia meraih kakiku dan membentangkannya. Kurasa tidak apa-apa untuk mengatakannya seperti itu, tapi tampaknya tidak bagi Alexander. Dia meraih dadaku dan membenamkan wajahnya di sana.
"Hadiah, ah! Hadiah apa yang kamu inginkan?"
Seolah-olah sebuah bintang memantul di depan mataku saat dia memutar pu*ingku. Meski sudah ada banyak tanda di sana, Alexander tetap menghisap dadaku, seakan semua itu masih belum cukup.
"Aku ingin kamu tidak menyuruhku untuk berhenti sampai aku menginginkannya sendiri."
"Aku tidak mau seperti itu, ah......!"
Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjawab. Tiba-tiba saja Alexander masuk ke tempat terdalamku. Bukankah kamu terlalu berlebihan dalam menggodaku? Ukuran kejan**nannya bahkan menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Tanpa disadari, di dalam diriku terasa penuh. Dia masih membenamkan wajahnya di dadaku, lalu dia menghela nafas pelan.
Saat Alexander mulai bergerak, seseorang mengetuk pintu. Aku mengangkat kepalaku, terkejut. Tapi Alexander tidak peduli dan tetap berkonsentrasi untuk bergerak.
"Ah, tunggu sebentar! ...Alex, ada orang di luar......"
"Lalu?"
Dia mengangkat bagian atas tubuhnya dan menyentuh kepalaku. Lalu dia menelan bibirku. Seketika aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku menepuk bahunya lagi dan lagi. Alexander mengerutkan keningnya dan melepaskan aku.
"Tuan! Tuan!"
Seseorang di luar mulai memanggil-manggil Alexander. Ketukan itu berangsur-angsur menjadi lebih keras. Aku melirik Alexander, menyeka bibirku yang basah karena air liur. Dia menatap ke arah pintu dengan tatapan ganas.
"Jangan berteriak seperti itu! Katakan saja ada apa."
Alexander berseru keras. Setelah Alexander bersuara, akhirnya suara ketukan pun berhenti.
"Tuan! Tolong keluarlah sebentar, sebentar saja."
"Hah, sialan!"
Dengan lembut Alexander membelai pipiku dan menarik kejan**nannya keluar. Kemudian dia menarik seprai yang sudah terdorong ke sudut tempat tidur untuk menutupi tubuhku. Dia turun dari tempat tidur dan memakai celananya yang jatuh ke lantai.
"Apa yang terjadi?"
Alexander bertanya, dia hanya membuka pintu untuk menjulurkan kepalanya. Seorang pria yang terlihat seperti salah satu pelayan berseru, dan dengan terengah-engah berkata,
"Tu-Tuan. Henrietta, Henrietta sudah tewas."
"......Apa?"
"Di belakang Kediaman...... Seorang pelayan yang sedang membersihkan salju menemukannya terkubur di tumpukan salju."
"Aku akan ke sana. Apa penyelidik sudah datang ke sana?"
"Belum, tapi Kepala Pelayan sudah mengirim seseorang untuk memberi tahu beliau."
Setelah berkata kalau dia akan keluar setelah berganti pakaian, Alexander menyuruh pelayan itu untuk pergi. Lalu dia menutup pintu dan kembali ke tempat tidur.
"...... Henrietta sudah tewas?"
Tanyaku, sambil membungkus diriku sendiri dengan selimut. Alexander mengangguk dengan wajah pucat.
"Hah, bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu. Kurasa aku harus turun untuk mencari tahu."
"Tidak, pasti seseorang membunuhnya."
Meskipun Henrietta adalah orang yang tidak tahu diri, dia bukanlah anak kecil yang akan melakukan kesalahan fatal. Aku menggigit bibirku. Henrietta yang kemarin masih hidup, kini sudah tiada.
"Yah, bukankah dia adalah orang yang di benci di sana-sini? Menangkap pembunuhnya adalah tugas penyelidik, jadi Kakak beristirahat saja."
Alexander menghentikanku saat aku mencoba memakai pakaianku. Tapi aku tidak ingin menunggu di kamar yang hangat ini dengan nyaman.
"Kita akan pergi bersama."
"Kakak."
"Aku ingin pergi."
"Itu mayat. Mungkin kamu akan terkejut."
Dia menarikku dan membaringkanku di tempat tidur. Bukankah terlalu berlebihan dia terus menerus menyelimutiku? Bukan berarti aku belum pernah melihat mayat, aku pernah melihatnya sekali atau dua kali.
"Tidak apa-apa. Aku ikut."
Saat aku tidak mau mengalah, Alexander mengerutkan keningnya. Lalu apa yang akan kamu lakukan? Dia tidak bisa menghentikanku lagi.
"Baiklah. Pakailah baju yang hangat."
Aku kembali ke kamarku dan turun dengan baju dan mantel baru. Alexander yang menungguku di bawah, membiarkan aku berjalan terlebih dahulu lalu dia mengikuti di belakangku, takut aku terjatuh.
Tubuh Henrietta ditemukan tidak jauh dari Kediaman.
Banyak pelayan yang sudah berkumpul di sana, dan masing-masing dari mereka berbicara dan merenung.
"Anda di sini, Tuanku?"
Kepala pelayan berbicara lebih dulu. Alexander menyuruhnya untuk minggir dengan mengangkat tangannya.
Henrietta ditutupi dengan kain. Tangannya terkepal seperti sedang memegang sesuatu dengan erat, tapi di saat yang sama itu tampak rapuh seolah akan hancur begitu disebut.
"Apa penyelidiknya sudah datang?"
Alexander bertanya sambil menatap mayat itu. Pelayan itu menjawab dengan cepat,
"Beliau bilang beliau akan segera datang."
"Sesuatu yang tidak lucu terjadi. Terjadi pembunuhan di Kediaman yang sedang diselidiki."
Tapi tidak ada senyum di wajahnya. Alexander mengangkat satu alisnya dan mengerutkan kening. Alexander memerintahkan beberapa pelayan untuk menarik kain yang menutupi mayat Henrietta.
Segera, aku bisa melihat Henrietta yang tewas dengan mata terbuka lebar, aku menarik nafas dengan cepat. Bahkan setelah menjadi mayat, sepertinya dia tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Kedua matanya terbuka lebar seolah-olah syok, dan ada noda darah yang mengalir dari bagian belakang kepalanya yang terluka sudah mengeras dan bercampur dengan salju.
"Minggir!"
Aku menoleh ke suara yang kudengar dari belakang. Claude berlari dari jauh. Dia mendekat, mendorong para pelayan yang berkumpul di dekat mayat itu.
"Kalian tidak boleh merusak TKP. Semuanya menjauhlah."
Sesampainya di dekat Alexander, dia menyeka keringat di dahinya. Alexander melirik Claude dan kemudian berjalan ke arahku. Sebuah tangan dingin melingkari bahuku.
"Kenapa kau masih sendiri? Apa kau sudah menghubungi rekan kerjamu?"
Alexander bertanya. Claude yang sedang berjongkok, memeriksa mayat itu berkedip dana menjawab, "Ah..."
"......Ya, mereka akan segera tiba. Pertama-tama, ayo kita semua masuk ke dalam. Sepertinya mayatnya harus dipindahkan.... ...Ada yang bisa bantu?"
Claude melihat sekeliling. Tidak ada yang mau mengangkat tangannya.
"Tidak ada?"
Claude tertawa canggung. Alexander yang menyaksikannya menghela nafas dengan marah dan menunjuk beberapa pelayan yang menarik perhatiannya.
"Kalian bantu dia. Dan sisanya, langsung kembali ke Kediaman tanpa pergi ke tempat lain. Siapa yang pertama menemukan Henrietta?"
Salah satu pelayan ragu-ragu dan mengangkat tangannya. Alexander mengangguk. Saat Alexander hendak mengajakku untuk kembali, entah bagaimana salah satu pelayan berteriak,
"Oh, tunggu! Saya pikir Henrietta memegang sesuatu di tangannya."
"......Ya?"
Kemudian Claude menjawab. Dengan santai dia mencoba membuka tangan Henrietta yang sudah membeku. Tapi tubuh yang sudah mengeras itu tidak mau melepaskan apa yang ia pegang.
"Tak apa, ini tidak- Ah, selesai."
Apa yang Claude coba tarik adalah secarik kertas tanpa tulisan apapun di atasnya. Dia memiringkan kepalanya seolah bingung.
"Tampaknya ini sobek. Aku tidak bisa tahu apa yang dia pegang. Apa penjahatnya mengambilnya?"
Aku melihat selembar kertas yang penyelidik tunjukkan.
Itu memang terlihat seperti yang dia katakan.
"Mungkin tidak terlalu penting. Daripada itu, ayo kita ke dalam. Orang pertama yang menemukannya, tolong tetap di sini. Anda harus memberi tahu saya bagaimana kronologi saat Anda menemukannya."
Claude mengeluarkan buku catatan dari dalam mantelnya. Saat dia mulai menanyai pelayan itu, Alexander datang dan meraih tanganku.
"Kakak, ayo kita masuk."
"Oh.... ...Hah?"
Aku mengangguk. Claude bertanya kepada pelayan itu apa yang dia lakukan semalam dan siapa yang bisa membuktikan keberadaannya.
Kalau dipikir-pikir, apa yang aku lakukan semalam? Kurasa aku dan Alexander sudah tidur sambil berpelukan sejak sore hari. Lalu, di lagi hari dia membangunkan aku, dan......
Tunggu sebentar, semalam?
Tanpa sadar aku mencengkeram tangan yang memegangiku. Alexander berbalik dan menatapku.
"Kenapa kamu seperti ini, Kak? Apa sulit bagimu untuk berjalan? Haruskah aku memelukmu?"
Aku menelan ludahku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku mulai berjalan menuju ke Kediaman dengan cepat. "Kakak?" Alexander berkata padaku. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Alexander datang dan bersandar padaku.
Aku melewati Claude bersama dengan Alexander. Untuk sesaat, mataku bertemu dengan mata Claude. Tanpa sadar dia mengangkat sudut mulutnya, tampaknya itu adalah kebiasaannya untuk selalu tersenyum setiap kali dia bertatapan dengan orang lain.
Rasanya aku seperti sudah sering melihat senyuman itu. Mungkin saja aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat di masa lalu.
Aku merasa agak canggung. Aku tidak tahu kenapa, hal ini membuatnya semakin buruk.
Tapi tiba-tiba saja aku tersadar.
Henrietta tewas di tengah malam. Dan aku sedang tidur.
Lalu, apa Alexander juga sedang tidur?
***
Halo! Cuap-cuap dulu, yaaa...
Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.
Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!
Tapi sebelum itu, ada beberapa hal atau bisa dibilang peraturan yang harus kalian ketahui sebelum me-request novel. Hal itu adalah...
1. Tolong jangan me-request novel yang telah atau sedang diterjemahkan oleh orang atau grup translator di suatu platform seperti blog, wat*pad, dsb. Kami tidak ingin menimbulkan konflik dengan penerjemah lainnya.
2. Kalian bisa me-request novel apapun (China, Jepang, Korea, dan juga novel berbahasa Inggris). Tapi itu bukan berarti kami akan langsung menerima request tersebut. Kami akan mempertimbangkannya terlebih dulu, pertimbangan yang dimaksud itu seperti ketersediaan raw, apa novel tersebut sudah dilisensi, apa sekiranya kami mampu menerjemahkannya, dsb.
3. Kami menerima request novel bergenre smut tapi kami tidak menerima request novel bergenre yaoi, yuri, dan genre lainnya yang serupa.
4. Sistem Request Novel ini hanya tersedia di Trakteer, jadi tentu saja ini adalah sistem yang berbayar.
Itulah peraturan utama dari Sistem Request Novel. Jika kalian masih bingung atau ada hal yang ingin ditanyakan kalian bisa langsung bertanya di komentar.
Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!
***
Puas dengan hasil terjemahan kami?
Dukung SeiRei Translations dengan,
atau
***
Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!
Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~
***
Previous | Table of Contents | Next
Comments
Post a Comment