The Reason Why Ophelia Can’t Get Away From The Duke [Bahasa Indonesia] Chapter 26
Chapter 26
Penerjemah : reireissSource ENG (MTL) : ONLYMTL
Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
***
TOLONG JANGAN BAGIKAN INFORMASI TENTANG BLOG INI!!
HAL ITU BISA MENGEKSPOS KAMI PADA PENULIS ATAU WEB RESMI.
JIKA ITU TERJADI, KAMI AKAN DIPAKSA UNTUK MENGHENTIKAN DAN MENGHAPUS NOVEL INI.
JADI MARI KITA HINDARI ITU BERSAMA-SAMA!!
***
"Tanganku dingin."
"Kalau begitu, usapkanlah ke wajahmu yang muram seperti Raja Iblis itu."
Aku melakukan percakapan singkat dengan Alexander sambil memperhatikan punggung para penyelidik yang kembali untuk mengambil jasad Cain.
Tanpa suara, dia tersenyum saat dia meletakkan tanganku ke genggamannya yang besar dan panas.
"Kamu terlalu berlebihan. Hatiku jadi terluka."
Sama sekali bukan begitu. Aku melirik wajah tampan Alexander dan bergumam.
"Karena aku baru saja mengatakannya. Baiklah, sebaiknya kita segera masuk. Kakak, pakaianmu terlalu tipis, aku jadi khawatir kamu akan masuk angin."
Tidak ada yang luar biasa dari isi percakapan santai itu. Seolah-olah tidak ada yang terjadi, rasanya seperti aku hanya keluar sebentar dari Kediaman saat musim dingin, bertemu dengan Alexander, lalu kembali ke Kediaman.
Entah bagaimana, semua itu terasa bisa dipercaya. Sampai saat dia menatap lurus ke arahku.
"Aku harus pergi dan mandi. Gaunku kotor dan rasanya sangat tidak nyaman."
"......Saat aku melakukannya, kamu duduk saja di sofa dan beristirahat, minumlah segelas wis*i."
Kataku sambil menghindari tatapan Alexander. Saat aku melihat wajahnya yang pucat dengan noda darah merah gelap di wajahnya, seakan peristiwa yang telah berlalu itu kembali menerjang seperti badai di benakku.
"Sofa yang mana?"
Dia bertanya, aku pun menjawab seolah-olah aku mengatakan hal yang sangat jelas.
"Tentu saja di kamarku."
"Kita pergi ke kamarku saja."
Alexander mengencangkan cengkeramannya. Tampaknya dia sangat percaya kalau dia melakukan itu, maka aku tidak akan menolaknya.
Anehnya, di hari pertama saat aku mendengar tentang kecelakaan yang dialami Ibuku dan Duke. Aku kaget saat mendengar kabar itu. Tangan kuat Alexander meraih lenganku. Wis*i kuat yang aku minum di hari itu. Bersama dengan punggung Alexander yang lebar dan elegan,
"Ah, tapi aku harus berganti pakaian......"
Aku mengucapkan kata-kata itu dengan samar. Alexander melingkarkan tangannya di bahuku seolah dia tahu kalau hal itu akan terjadi. Tubuhku, dalam sekejap berbalik, menempel pada setelan hitamnya. Deg, deg, deg. Suara detak jantung yang kuat menusuk telingaku.
"Bukankah ada cerita yang belum kita selesaikan?"
Mataku hanya menatap kosong saat mendengar suaranya yang lembut dan rendah. Meski aku diam, mungkin dia menyadari kalau aku menyetujuinya. Alexander pun meraih tanganku lagi.
Kamu kembali ke Kediaman tanpa membuang-buang waktu.
Kepala Pelayan yang membukakan pintu, tidak seperti sebelumnya, kini Kepala Pelayan bersikap baik padaku. Mungkin karena aku sangat dekat dengan Alexander.
Alexander dan aku melewati para pelayan, mengabaikan mereka seakan mereka semua tidak terlihat. Aku mengikuti Alexander ke kamarnya.
Alexander mengerutkan kening dan mengendurkan dasinya. Aku berdiri membelakanginya dan menuangkan wis*i. Hanya suara tetesan cairan yang bisa terdengar di ruangan itu.
Suasananya begitu tenang. Tanpa sadar, aku hampir menoleh ke arah Alexander. Dengan kemejanya yang terbuka, dia menatapku dengan kepala yang miring ke samping.
"Seperti inikah rasanya menceritakan hal yang belum pernah diceritakan?"
Aku tertawa terbahak-bahak. Aroma wis*i yang kuat mengalir di tenggorokanku. Rasanya dadaku berdetak kencang.
Bang! Aku meletakkan gelas dengan membuat suara yang keras. Alexander berjalan ke arahku.
***
WARNING!! R-18!!
Risiko yang terjadi saat atau sesudah membaca, harap ditanggung masing-masing~
***
Kami saling menyerang seperti binatang buas, tidak peduli siapa yang memulai terlebih dahulu. Setelah dia mencampuradukkan lidahnya, semua pakaian yang kami kenakan, kini berada di lantai.
"Haa......"
Dia membuka sedikit bibirnya yang basah dan berkilau. Aku mengangkat kakiku dan melingkarkan tanganku di lehernya. Saat aku menjulurkan bibirku dan menggigit bibir bawahnya tanpa rasa sakit, Alexander mengerang seolah kesakitan.
"...Ah, Ophelia."
Tangannya melingkari pinggulku dengan erat. Dengan satu tangan, dia membantuku untuk tetap berdiri dan memelukku. Aku melingkarkan kakiku dan menggantung di tubuh Alexander dengan pinggangnya sebagai penyangga.
Kejan**nannya yang ere*si sudah panas, dia menggosokkannya di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Mungkin karena tubuh Alexander bercampur dengan aroma angin dingin yang masih tersisa, aku sudah memuntahkan banyak cairan cinta di bawah sana. Saat aku menekan kejan**nannya yang berada tepat di atas pusar, seketika punggungku bergetar.
"......Ah!"
Aku memekik dan tanpa sadar, aku mendorong Alexander. Dia menggeram dan meraih pan*atku erat-erat. Sulit untuk mempertahankan akal sehat saat kedua alat kela*in kami bergosokkan secara tidak teratur. Aku mengencangkan pelukanku di leher Alexander.
Setiap gerakan dari alat kela*in itu terasa halus di tubuh telanjang kami. Aku berharap, aku bisa menghentikannya sebelum dia menusukkan kejan**nannya ke dalam diriku agar aku tidak kehilangan akalku.
Aku meringis saat membayangkan benda seukuran lengan bayi bergerak maju-mundur di dalam diriku. Tapi Alexander terus berkeliaran di sekitar pintu masuk yang basah, dia hanya menggosok klit**isku. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia mulai naik.
Aku menatapnya tidak puas. Alexander sedang berkonsentrasi pada aksinya saat dia mengeluarkan nafas panas melalui bibirnya yang berwarna merah.
Alisnya yang sedikit berkerut dan suhu tubuhnya yang memanas, dan area mata yang kemerahan karena panas. Cinta kembali memancar,
"Sulit bagiku untuk menahannya."
Dia menjilat bibirnya dan berbisik. Kejan**nannya mengeluarkan cairan, kejan**nannya terus menekan kewani**anku.... ...Apa kamu memperhatikan?
"Apa, uhh, itu suara...... Tanpa memasukkannya."
Aku mengenal Alexander, dia tidak akan bisa berhenti begitu dia memasukkannya. Tidak ada rasa takut. Namun, saat ini, antisipasi untuk memukulnya dan menggoyangkan alat kela*in lebih besar.
Aku menjambak rambutnya yang lembut seolah aku memiliki dendam padanya. Alexander menutup satu matanya, dia meringis, dan dada yang bidang naik-turun. Meski begitu, kejan**nannya tetap tidak berhenti.
"Ughh..."
Aku menggigit bahu tebal Alexander dengan ketidakpuasan. Bahunya yang putih dengan bekas gigitanku itu bergetar.
"Jangan... Aku belum mandi. Bagaimana bisa kamu memasukkan? Kan kotor."
"Kamu mempermasalahkan hal seperti itu di saat seperti ini?"
Dia bertanya dengan tidak masuk akal. Apa hanya aku yang menjadi gila? Padahal aku benar-benar memikirkan hal yang pribadi seperti itu. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau marah saat membicarakan tentang kebersihan sebelum berhubungan se*s.
"......Aku juga tidak terlalu bersih."
Aku menggerutu dan menggosok bibirku. Alexander tertawa kecil.
"Oh, aku punya ide bagus." Ujarnya sambil mencium pipiku.
Saat aku memiringkan kepalaku, Alexander menekan klit**isku dengan kejan**nannya yang tebal dan perlahan mengangkat sudut mulutnya.
"Kita bisa mandi bersama."
"Lakukan sa- Ahh..."
Aku menarik nafas. Alexander tersenyum nakal.
"Jangan seperti itu. Tolong beri aku izin."
Kalau aku tidak kunjung mengatakan sesuatu, sepertinya dia akan terus melakukan ini. Dia menggosokkan kejan**nannya ke klit**isku yang menonjol dengan begitu bahagia, bahkan kilatan cahaya seakan melintas di matanya.
"Haaa... Ahh......"
"Cepatlah."
"Oh! Ahhh..."
"Ayo, cepatlah."
"Ah, aku mengerti. Jadi berhentilah!"
Pada akhirnya, aku tidak bisa menang darinya. Sambil marah, aku memukul bahu Alexander. Seolah-olah itu tidak mengganggunya sama sekali, dia memelukku dan menuju ke kamar mandi.
Alexander menaruhku di di bak mandi dan mulai mengisinya dengan air. Ketika air hangatnya berada di tingkat tertentu, Alexander mengambil sabun. Dan hal pertama yang dia lakukan adalah mencuci tangannya dengan banyak busa.
"Ini aneh."
Aku meliriknya. Tapi Alexander hanya mengangkat bahunya.
"Harusnya kamu malu. Menurutmu, tubuh siapa yang akan kusentuh? Oh, itu bersih. Sekarang bisakah aku membuka bagian bawahnya sedikit?"
Aku menengok ke belakang, Alexander tampak melakukan for**lay dengan sangat serius. Itu karena sebelumnya, saat kami berhubungan se*s selama enam kali berturut-turut tanpa istirahat, aku merasa lelah dan bagian kewani**anku menjadi sakit dan kaku.
"Istirahat dulu lalu kita akan melakukannya nanti." Aku mengatakan itu dengan kesal, tapi di hanya mengangguk seakan mengerti. Setelah beberapa saat, Alexander meraih pahaku dan menyentuh kewani**anku seolah dia sudah melupakan segalanya.
"Lagi pula, semuanya akan hanyut oleh air."
"Bukankah itu adalah sesuatu yang tidak akan kamu ketahui sebelum kamu mencobanya?"
Alexander meraih tubuhku dan membuatku duduk di bak mandi. Lalu aku menyeka semua noda darah di wajah dan di bawah dagunya. Tatapannya yang masih sedikit memerah, mengarah ke semak-semakku.
"Coba lihat ini, bukan hanya bibir dan pu*ing saja yang memerah."
Dia menarik-narik pergelangan kakiku seolah hal yang dia lakukan ini sangat wajar. Saat aku menundukkan kepala, kewani**anku yang sudah terbuka, sedikit terbuka dan tertutup berulang kali. Saat daging merahnya membengkak, mata abu-abu peraknya itu semakin menggelap.
"Wow! Sialan." Gumamnya sambil menjilati bibir bawahnya.
Aku ingin memberi tahunya kalau wajahnya saat ini terlihat sangat cabul, dan kejan**nannya yang berdiri di antara kedua kakinya itu meneteskan cairan cinta dan spe**a, itu sungguh amat sangat cabul.
Tapi, begitu Alexander masuk ke bak mandi, berlutut, dan mulai menghisap kewani**anku yang basah, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang tepat.
"Ah! Alex, ahhh!!"
Aku mengerang saat melihat rambut hitamnya yang basah menempel di dahinya. Matanya yang indah itu terus tertutup, seakan Alexander berkonsentrasi untuk menjulurkan lidahnya ke dalam kewani**anku. Lalu, cairan cinta itu menetes, Alexander meminumnya dengan rakus seperti orang yang menemukan oasis saat tersesat di Padang Pasir.
"Ah! Aku belum membersihkannya, tapi......"
Pahaku gemetar dan aku berteriak. Alexander membuka matanya, menatapku, dan menggerakkan lidahnya dari bawah ke atas. Aku merasa seperti kehabisan nafas karena tercekik. Alexander bergumam dengan bibirnya yang masih berada di antara kakiku,
"Ophelia, aku tidak peduli. Tidak, bahkan ini lebih baik. Aroma dirimu di bawah sini sangatlah nakal."
Satu jari panjangnya masuk ke dalam. Dia bergerak dengan hati-hati seolah-olah dia memeriksa setiap lipatan dinding bagian dalam.
Tapi begitu dia memastikan kalau bagian dalam diriku sudah cukup basah, gerakannya menjadi semakin berani. Segera, hari lainnya masuk. Alexander menatapku seolah-olah dia tahu harus menyentuh yang mana dan bagaimana memainkannya.
"Ah, ahhh, ahhhhhh!!"
Ada saat di mana punggungku tersentak begitu ujung jarinya menyentuh suatu tempat. Aku mencoba mendorong lengan Alexander menjauh dengan rasa senang yang tak tertahankan. Namun, dia menggelengkan kepalanya seolah dia tidak punya pilihan dan terus merangsang tempat itu.
"Hei, hentikan! Ah, ahh!"
Aku bahkan tidak bisa memahami kata-kata yang keluar dari mulutku. Tanpa daya, aku harus membiarkan jari-jarinya meluncur melalui klit**is dan masuk dan keluar dari kewani**anku.
Air liur keluar dari mulutku yang terbuka. Tepat saat aku berpikir kalau aku akan menjadi gila, Alexander melepaskanku.
"Bisakah? Aku khawatir punggungmu akan sakit kalau kita melakukannya di sini... Yah, tidak. Kamu diam saja."
Alexander melihat sekeliling, membelai kejan**nannya yang menonjol. Pasti dia sudah memutuskan kalau dia tidak bisa membiarkan aku berbaring di lantai kamar mandi atau di bak mandi. Aku hampir mencapai puncak, lalu dia memelukku.
"Eh, bagaimana......"
Aku bertanya dengan cemas. Dia membuat kakiku melingkari pinggangnya sama seperti yang dia lakukan saat di kamar tidur. Kejan**nannya yang merah muda pucat mengeluarkan cairan lengket di perutku. Aku mengencangkan perutku dan membenamkan wajahku di leher Alexander.
"Kamu sangat ringan. Kalau kamu tidak makan dengan benar, aku akan marah nanti."
Bertentangan dengan pembicaraannya yang santai, dia bergerak dengan tergesa-gesa. Dia sedikit mengangkat pan*atku dan menyelaraskannya dengan kewani**anku. Hah!? Entah bagaimana, Alexander menerobos masuk ke dalam tanpa henti.
"Ugh! Ini sempit...... Biarkan aku masuk. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi kenapa selalu saja seperti ini. Haaa."
Penampilannya yang selalu terlihat rapi kini berantakan. Ada kerutan di dahinya. Alexander menggertakkan gigi dan mulai mengangkat pinggulku. Bahkan aku bisa merasakan pembuluh darah di kejan**nannya yang masuk ke dalam. Aku memiringkan kepalaku.
"Ugh! Ahh!! Sedikit, perlahan......"
"Aku tidak suka itu."
Kalau aku memohon padanya saat kami berhubungan se*s, dia tidak akan mendengarkannya. Dia memberikan ciuman yang dalam ke tengkuk leherku. Setiap kali rambut hitamnya menyentuh wajah atau leherku, aku tertawa karena merasa geli. Kemudian Alexander membuka bibirnya dan menggigit leherku dengan ketidakpuasan.
"Fokuslah padaku."
"Aku sudah melakukan itu. Ahh!!"
Dia meninggalkan jejak ciuman di sana, seolah dia ingin menghapus bekas cekikan di leherku itu. Namun, semakin dia melakukan itu, dia juga semakin dalam menerobos masuk ke dalam diriku.
Tidak! Posisi ini berbahaya. Aku merinding begitu aku berpikir kalau posisi ini membuatku seakan menjadi satu tubuh dengannya. Dia menggerakkan pinggulku dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari terakhir kali kami melakukannya. Bahkan dia tidak berhenti untuk sesaat, ini seperti perbudakan.
Nafas panas terus menyentuh leherku. Alexander membenamkan wajahnya di bahuku dan menyerang di tempat-tempat sensitifku. Aku jadi tidak bisa memikirkan apapun.
"Ah, ah, ahh!!"
Pada akhirnya, seperti biasa, aku mencapai puncak terlebih dahulu. Aku berjuang sekuat tenaga untuk menghindari rangsangan dari kejan**nannya yang tanpa henti. Tapi, seakan dia sudah mengetahui itu, Alexander menopang pan*atku dan memegang bagian belakang leherku dan menusukkan kejan**nannya.
"Ahhh......"
Dan akhirnya, dia eja**lasi. Alat kela*in kami yang masih bergabung pun berkedut. Aku menggosok panggulku yang kaku dan menatap mata Alexander.
"Kenapa?" Tanyaku.
Dia hanya tersenyum seperti iblis. Seorang pria yang benar-benar jahat. Dia memasukkan data spe**a ke dalam diriku, dan tidak mau melepaskan aku?
"Biarkan aku mandi." Katanya dengan mata lelah.
Jelas, pada awalnya, tubuhku basah karena air, tapi sekarang aku jadi basah karena keringat.
"Kalau begitu, kita bisa melakukannya sambil mandi."
"Bukan itu maksudku......"
"Pertama, rentangkan kakimu. Aku akan membersihkannya."
Alexander menempatkan aku di bak mandi. Sambil menggoyangkan bahunya di air mandi yang dingin, dia menyalakan keran dan mulai mengisi bak dengan air hangat lagi. Lalu, dia memasukkan jarinya ke dalam kewani**anku yang berisi spe**a yang keruh.
***
Halo! Cuap-cuap dulu, yaaa...
Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.
Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!
Tapi sebelum itu, ada beberapa hal atau bisa dibilang peraturan yang harus kalian ketahui sebelum me-request novel. Hal itu adalah...
1. Tolong jangan me-request novel yang telah atau sedang diterjemahkan oleh orang atau grup translator di suatu platform seperti blog, wat*pad, dsb. Kami tidak ingin menimbulkan konflik dengan penerjemah lainnya.
2. Kalian bisa me-request novel apapun (China, Jepang, Korea, dan juga novel berbahasa Inggris). Tapi itu bukan berarti kami akan langsung menerima request tersebut. Kami akan mempertimbangkannya terlebih dulu, pertimbangan yang dimaksud itu seperti ketersediaan raw, apa novel tersebut sudah dilisensi, apa sekiranya kami mampu menerjemahkannya, dsb.
3. Kami menerima request novel bergenre smut tapi kami tidak menerima request novel bergenre yaoi, yuri, dan genre lainnya yang serupa.
4. Sistem Request Novel ini hanya tersedia di Trakteer, jadi tentu saja ini adalah sistem yang berbayar.
Itulah peraturan utama dari Sistem Request Novel. Jika kalian masih bingung atau ada hal yang ingin ditanyakan kalian bisa langsung bertanya di komentar.
Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!
***
Puas dengan hasil terjemahan kami?
Dukung SeiRei Translations dengan,
atau
***
Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!
Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~
***
Previous | Table of Contents | Next
Comments
Post a Comment