The Reason Why Ophelia Can’t Get Away From The Duke [Bahasa Indonesia] Chapter 20 Part 3
Chapter 20 Part 3
Penerjemah : reireissSource ENG (MTL) : ONLYMTL
Dukung kami melalui Trakteer atau Saweria agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
***
TOLONG JANGAN BAGIKAN INFORMASI TENTANG BLOG INI!!
HAL ITU BISA MENGEKSPOS KAMI PADA PENULIS ATAU WEB RESMI.
JIKA ITU TERJADI, KAMI AKAN DIPAKSA UNTUK MENGHENTIKAN DAN MENGHAPUS NOVEL INI.
JADI MARI KITA HINDARI ITU BERSAMA-SAMA!!
***
WARNING!! R-18!!
Risiko yang terjadi saat atau sesudah membaca, harap ditanggung masing-masing~
***
"Bagaimana bisa kamu sudah kelelahan? Padahal aku belum melakukan apapun."
.
.
.
Tanyanya, dia membungkuk di atas tubuhku. Tubuhnya setengah telanj*ng, dan dia terus menatap dadaku. Alexander menyentuh dadaku yang cembung dengan matanya yang cekung. Gaunku pun robek secara acak. Rasanya dadaku berdebar kencang dalam genggamannya.
"Putih, lembut......"
Kali ini, dia mula menghisap salah satu pu*ingku. Rambutnya yang berantakan menyentuh dan menggelitik tulang selangkaku. Sesuatu yang panas dan keras menggesek pahaku.
"Ah, bahkan hanya dengan menggesekkannya seperti saja, tidak apa-apa."
Wajahnya berkerut. Lidahnya yang sudah memutar-mutar pu*ingku ke sana ke mari, berkeliaran di bawahnya. Saat dia menghisapnya dengan keras, dalam sekejap ada tanda merah yang tertinggal.
Terdengar suara berderit dan suara ikat pinggang yang mengendur. Kapan dia melepaskan bajunya? Ketika dia menurunkan celananya, kini Alexander sudah benar-benar telanj*ng. Dadanya yang kokoh menekanku.
"......Kakak."
"Jangan konyol! ......Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai Kakakmu yang sesungguhnya, aku tidak pernah melakukannya sekali pun."
"Kalau begitu, Ophelia."
Dia melakukan kontak mata denganku dan memanggil namaku. Dia hanya memanggil namaku, tapi emosiku menjadi liar. Aku berusaha bangkit untuk menyembunyikan tubuhku. Alexander menggelengkan kepalanya seolah tidak memperbolehkannya dan menggenggam tanganku.
"Kurasa kamu harus melebarkan kakimu sedikit lagi."
"Ughh..."
Aku hanya mengeluarkan kata-kata yang bahkan aku sendiri tidak bisa memahaminya. Alexander menghujaniku dengan ciuman di mata, pipi, dahi, pangkal hidung, dan bibirku dengan wajah yang seakan mengatakan kalau aku ini imut.
Aku melebarkan kakiku. Kejan**nannya yang menyentuh pintu masukku membuatnya mengerang dan dia menggesekkannya. Alexander menggelengkan kepalanya dan secara naluri, dia menekan kejan**nannya ke belahan kemalu*nku.
"...Ups!"
Ujung kejan**nannya yang besar masuk ke dalam sedikit demi sedikit. Itu tidak terlalu sakit sampai saat dia memasukkan kepala kejan**nannya. Apa ini sepadan dengan usaha kerasnya?
Kejan**nannya terus masuk...... Seakan tidak ada habisnya.
"Semuanya... Jangan, jangan semuanya..."
"Tidak. Lagi pula, ini tidak akan lama... Ugh! Santai saja."
Keringat menetes di pelipisnya. Dia juga berjuang. Saat aku menyeka keringat di dahinya, sudut mulut Alexander terangkat.
"......Ah!"
Sepertinya sudah masuk semua. Aku membenamkan hidungku ke lehernya dan menghembuskan nafas berat. Seperti sangat sulit untuk menahan rasa sakitnya tanpa menggigit bahunya.
"Opheee... Liaaa..."
Air mataku keluar saat namaku dipanggil. Untungnya, itu tidak menetes. Alexander menjulurkan lidahnya dan menjilat air mata di bawah mataku itu.
Perlahan dia mulai mendorong punggungnya. Alexander membuatku melingkari pinggangnya saat kakiku berayun di udara dan gemetar. Aku memejamkan mata erat-erat dan menatap langit-langit. Rasanya mataku berputar-putar.
"!!!"
Kejan**nannya yang keluar-masuk mengeluarkan bunyi tumbukan. Aku bisa merasakan te*tisnya bergesekan dengan pan*atku. Kejan**nannya yang menusuk sampai ke bagian dalam tanpa henti terasa panas, nyeri, dan nikmat.
Aku mengeluarkan suara yang menjijikkan. Tampaknya Alexander sudah tidak bisa menahannya lagi.
Dia memberikan kekuatan pada tanganku yang tergenggam, dan dengan cepat dia mengaduk-adukku setiap kali melihat diriku bereaksi sedikit lebih keras. Cairan cinta mengalir deras dan membasahi seprai.
Aku merasa kalau aku bisa saja kehilangan akal kapan pun itu. Inilah kesanku tentang pengalaman pertamaku. Bahkan saat aku mencengkeram punggung bawahnya, Alexander tetap mencoba untuk memuaskan aku dengan mulutnya. Jelas kalau seluruh tubuhku akan penuh dengan 'jejak'.
Hampir tidak ada percakapan selama 'hubungan' ini.
Seolah-olah dia tahu, tanpa mengatakan apapun Alexander hanya menjamah bagian-bagian yang sensitif dan menusukkan dirinya ke bagian terdalam. Begitu aku membuka mulut, satu-satunya hal yang keluar hanyalah erangan.
"Ahhh, hah! Sekarang, ya, itu... Ah, ahh!"
Aku hanya ingin memberitahunya untuk berhenti. Tapi pada akhirnya, aku yang mencapai puncak terlebih dahulu. Alexander masih memacu pinggulnya saat dia melihatku yang sudah lemas dan lemah. Tak lama kemudian, dia juga jatuh di atasku dengan erangan tajam.
Tampaknya, dia tahu kalau berat badannya bisa membebaniku, jadi kemudian dia menahan berat badannya pada tangannya yang memenjarakanku. Aku memeluk kepalanya yang terus menerus mencium bahu dan tulang selangkaku, bahkan setelah kami selesai berhubungan se*s.
Kalau aku memejamkan mata, aku merasa seperti bisa tertidur kapan saja. Tapi tidak dengan Alexander, dengan lembut tangannya memutar pu*ingku, bahkan aku tidak bisa melepaskan pikiranku,
'Diam. Dia bergerak.'
Alexander menarikku untuk duduk di atas perutnya lalu dia tersenyum padaku dengan menggoda. Dia juga meraih panggulku yang gemetar tidak berdaya dan menyentak punggungku dengan keras. Dia bertingkah seperti dia hanya dilahirkan untuk berhubungan se*s.
Aku tidak bisa melakukannya lagi. Baru setelah aku berteriak, "Bajin*an!" Alexander melepaskanku. Tidak, dia menarikku turun dari perut berototnya.
Saat aku masuk ke kamarnya, hari masih pagi. Tapi kini waktu sudah menunjuk ke pagi hari. Jadi aku begadang semalaman......
Nyeri otot membuatku tidak bisa bergerak. Aku tidak tahu apakah seluruh tubuhku sakit, tapi setelah beberapa saat berbaring di tempat tidur, aku merasakan sakit dan nyeri di sana-sini. Aku membenamkan wajahku di dada Alexander yang keras dan tidur selama setengah hari.
Ketika aku bangun, aku tersadar kalau tubuhku yang harusnya basah oleh cairan cinta dan spe**a kini sudah segar dan kering. Tampaknya saat aku tidur, Alexander menyeka tubuhku.
Masih ada mangkuk air dan handuk kaku yang tertinggal di meja dekat tempat tidur yang belum diangkat. Alexander tidak ada di kamar. Aku berbaring meringkuk di tempat tidur yang luas ini.
Tok, tok, tok
Aku berada di kamar sendirian. Aku masih terus berbaring, aku mengangkat mata dan melirik ke arah pintu. Seharusnya tidak perlu ada sopan santun.
"Masuk."
Alexander yang sudah memakai kemeja dan celana hitamnya, membawa nampan dengan kedua tangannya lalu dia masuk dan menutup pintu dengan kakinya.
"Karena kamu sudah menggunakan banyak tenaga, kupikir kamu harus meminum ini."
"Bukan aku, kamulah orangnya, yang menggunakan banyak tenaga."
Aku menggerutu di atas seprai. Aku bersandar di kepala tempat tidur dan bangkit untuk duduk, tapi nyeri ototku sangat buruk sampai aku kembali jatuh terbaring. Alexander menurunkan sudut matanya seolah-olah dia merasa kasihan padaku yang dalam sehari sudah menjadi pasien.
"Jadi aku perlu mengisi kembali staminaku? Tapi kenapa malah Kakakku yang terlihat membutuhkannya?"
"......Aku tidak mengenal mulut yang mengatakan kata-kata menjijikkan itu."
Meski dia menyerahkan gelas itu padaku, Alexander tertawa dan mengatakan kalau dia menyukaiku. Aku memelototinya dengan absurd, tapi Alexander tidak memperhatikan tatapan pahitku.
"Ayo, makan. Aku turun dan memintanya secara pribadi dari koki..."
"...Ini bagus untuk stamina." Tambahnya, aku tidak punya pilihan selain melemparkan bantal ke arahnya. Sekarang dia sudah tidak berusaha untuk menyembunyikan hatinya yang gelap lagi.
"Ini."
Alexander berpura-pura sakit tapi dengan mudahnya dia bisa menghindari bantal yang kulempar. Dia mendekat ke samping tempat tidur dan meletakkan nampan. Uap mengepul dari stew yang terbuat dari daging yang direbus hingga lembek.
"Aku tidak bisa makan makanan panas, jadi harus didinginkan dulu."
Dia mengangkat sendok dan mengaduk-aduk stew itu. Alexander mengambil sesendok stew, meniupnya, dan membawanya ke bibirku. Menatapnya sejak, lalu aku menerima suapannya. Alexander sedikit tersenyum.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Apa kamu akan memperlakukan aku seperti anak kecil?"
"Ini namanya diperlakukan dengan hormat."
"......Terima kasih."
Sedikit demi sedikit aku mulai makan stew yang dia suapkan padaku. Saat mangkuk itu mulai kosong setengahnya, aku sudah merasa kenyang, jadi aku menggelengkan kepalaku. Alexander mengangkat satu alisnya untuk menunjukkan kalau dia tidak menyukainya.
"Aku hanya ingin makan segini saja. Aku ingin makanan penutup lebih banyak lagi."
Makanan penutupnya terlihat sangat lezat, itu dibuat dengan melarutkan gula dalam buah berukuran kecil. Aku mengambil garpu pencuci mulut dan hendak mengambilnya, tapi Alexander menggelengkan kepalanya.
"Kenapa harus kamu? Kamu tidak perlu bergerak."
Alexander mengambil garpu dari tanganku dan membawa buah itu ke mulutku. Saat aku ingin memakannya, dia bahkan tidak berbicara. Tapi saat aku menatapnya, Alexander malah memasukkan buah ke mulutnya dan tersenyum.
"......"
"...Ayo, coba rayu aku dengan cara seperti ini."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, senyumnya semakin dalam. Tanpa ragu, aku menoleh dan memakan buah di mulutnya. Sari buah keluar dan mengalir di daguku. Tiba-tiba, senyum yang tersisa di sudut matanya menghilang.
"Tidak. Bukan seperti itu."
"Apanya yang bukan?"
Dia membungkuk ke arahku. Dia menyingkirkan nampan dan mendekatiku.
"Aku ingin membersihkannya."
Perlahan matanya mengamati daguku. Dengan lembut dia menurunkan matanya, dia mulai menjilati daguku seolah inilah yang dia tunggu-tunggu sejak tadi. Lagi dan lagi,
Satu kali. Tidak, dua kali.
Mustahil bagiku untuk mengetahui kapan tepatnya saat hal ini terjadi. Tapi yang jelas, saat Alexander melepaskan aku, hari sudah malam.
"Aku ingin mandi."
Aku mendorong Alexander yang terus menempel padaku. Meski dia sudah menyeka aku dengan handuk basah, aku tetap ingin mandi, berendam di bak mandi.
"Bersama."
Dia melingkarkan satu tangannya di pinggangku. Dia membisikkan kata-kata itu dan mencium tengkukku yang terbuka. Aku menampar lengan Alexander. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Nanti saja."
"Sekarang!"
"Nanti."
"......"
Matanya penuh dengan ketidakpuasan. Bibirnya yang terkatup rapat kembali bergerak. Saat aku mendorongnya menjauh, Alexander meraih telapak tanganku. Aku terkejut, Alexander mencium telapak tanganku.
"Kakak......"
"Alex."
"Kurasa, aku sakit di sini."
Dengan halus, Alexander menggosokkan kejan**nannya ke pan*atku. Bahkan setelah barusan melakukannya, dan bahkan setelah baru saja dia mencapai puncak, dia kembali memintaku untuk mengetahui 'keberadaannya'.
"...Kamu tidak lelah?"
"Kurasa itu karena aku masih muda."
Ucapnya dengan berbisik. Aku tidak berpikir kalau itu adalah sesuatu yang harus dilakukan saat kau masih muda. Aku segera mencari celah, aku melompat dari tempat tidur saat Alexander hendak memberiku pelukan yang lebih erat.
"Aku ingin mandi."
"Bersama."
"Sendiri."
"Hisap."
Hisap!? Hisap katanya? Dengan ukuran yang seperti itu?
Itu masalah besar untuk melihat betapa lucunya itu. Aku mengambil gaunku yang tergeletak di lantai, hampir semua bagiannya robek-robek, tapi aku tetap memakainya. Alexander menatapku seperti anak anjing yang menyedihkan.
"Mandi. 'Itu' nanti saja."
Seketika kulit Alexander menjadi cerah. Dia benar-benar terlihat seperti anjing raksasa yang melambai-lambaikan ekornya. Aku melihat kejan**nan Alexander yang menonjol di antara seprai dengan mata lelah, lalu aku melangkah pergi.
Ketika aku kembali ke kamar, Henrietta yang selama ini batang hidungnya tidak kulihat, sedang mengganti seprai. Hanya dalam beberapa hari, kulitnya tampak pucat. Dia mengangkat kepalanya seolah merasakan keberadaanku.
"......Nona."
"Aku ingin mandi."
"Baik, saya akan segera menyiapkannya."
Henrietta meletakkan seprai dan langsung masuk ke kamar mandi. Saat air panas sudah memenuhi bak mandi, dia mendekatiku seolah akan melayaniku.
"Gaun......"
"Ini agak intens."
Tangan Henrietta yang melepas gaunku yang hampir robek, berhenti sejenak. Ada banyak tanda merah di bahu dan leherku yang terbuka. Perlahan dia melihat itu semua, dan ketika mata kami bertemu, dia memalingkan muka karena terkejut.
"Oh, Nona. Pakaian dal-"
"Aku membuangnya. Itu tidak lagi dibutuhkan."
Aku membiarkan Henrietta diam membeku, aku pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Dia yang menegang perlahan mengikutiku.
"......Nona pasti sakit."
Gumam Henrietta sambil menggosok bahuku saat aku berendam di bak mandi. Apa kamu tahu di mana dan bagaimana sakitnya? Aku tersenyum tapi tidak mengatakan apapun. Dengan cepat, Henrietta juga menutup mulutnya.
Aku selesai mandi dengan bantuan Henrietta. Aku membungkus rambutku yang basah dengan handuk dan menuju ke meja rias. Henrietta berdiri di belakangku dengan gaun yang akan aku pakai.
Henrietta mengeringkan rambutku saat aku mengoleskan lotion. Karena rambutku sudah kering, Henrietta mengeluarkan sisir.
"......Awww!!"
Aku hanya menatap Henrietta yang sedang menyisir rambutku seperti biasa. Kupikir, dia sedang mencoba untuk mengurai rambutku yang kusut, tapi rasanya kulit kepalaku seperti ditarik dan itu sangat menyengat hingga air mataku keluar.
"Ah! Nona. Maaf, maafkan saya."
Dia menggelengkan lalu menundukkan kepalanya. Saat aku tidak mengatakan apa-apa, Henrietta memutar matanya dan melirikku. Lalu, saat dia melihat pantulan bayanganku di cermin, dia segera mundur.
"Maaf."
"......Ya. Maaf, maaf, maaf."
Aku berbalik perlahan. Lalu aku mengangkat tanganku saat menghadap Henrietta.
Sehelai rambutku tergantung di celemeknya. Aku hanya mencoba untuk melepasnya.
"Argh!"
Henrietta menjerit aneh dan memberontak.
"......Tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak apa-apa!"
Dia mengangkat sudut bibirnya dengan canggung sampai membuatnya terlihat menyedihkan. Aku berpikir untuk 'menyadarkan' Henrietta, tapi kalau aku 'mengulurkan' tangan, aku yakin dia akan menangis karena kaget.
"Pergilah. Aku akan melakukan sisanya."
Henrietta menggelengkan kepalanya beberapa kali. Aku bertanya-tanya, apa saat dia bangun punggungnya terkilir? Dia sampai berkata, "Awww......" Dan membuat suara yang menyakitkan. Saat dia menatapku, matanya terbuka lebar, lalu dia melambai-lambaikan tangannya.
"Tidak masalah. Nona, saya baik-baik saja."
"Benarkah? Kau terlihat pucat."
"Itu, itu......"
Itu karena aku memasukkan kembali sihirmu secara paksa, kukira dia akan mengatakan itu. Aku mendongakkan daguku dan tersenyum perlahan. Ayo, katakan itu.
"Tidak, saya baik-baik saja. Kalau begitu, sampai jumpa."
Dengan tertatih-tatih, Henrietta buru-buru meninggalkan ruangan. Sendirian, aku memperhatikannya dari sudut mataku dan bergumam dengan sia-sia,
"Harusnya kau tinggalkan sisir itu......"
***
Halo! Cuap-cuap dulu, yaaa...
Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.
Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!
Tapi sebelum itu, ada beberapa hal atau bisa dibilang peraturan yang harus kalian ketahui sebelum me-request novel. Hal itu adalah...
1. Tolong jangan me-request novel yang telah atau sedang diterjemahkan oleh orang atau grup translator di suatu platform seperti blog, wat*pad, dsb. Kami tidak ingin menimbulkan konflik dengan penerjemah lainnya.
2. Kalian bisa me-request novel apapun (China, Jepang, Korea, dan juga novel berbahasa Inggris). Tapi itu bukan berarti kami akan langsung menerima request tersebut. Kami akan mempertimbangkannya terlebih dulu, pertimbangan yang dimaksud itu seperti ketersediaan raw, apa novel tersebut sudah dilisensi, apa sekiranya kami mampu menerjemahkannya, dsb.
3. Kami menerima request novel bergenre smut tapi kami tidak menerima request novel bergenre yaoi, yuri, dan genre lainnya yang serupa.
4. Sistem Request Novel ini hanya tersedia di Trakteer, jadi tentu saja ini adalah sistem yang berbayar.
Itulah peraturan utama dari Sistem Request Novel. Jika kalian masih bingung atau ada hal yang ingin ditanyakan kalian bisa langsung bertanya di komentar.
Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!
***
Puas dengan hasil terjemahan kami?
Dukung SeiRei Translations dengan,
atau
***
Ayo… Jangan pelit untuk klik emoji dan tinggalkan komen, ya!!
Biar kami makin semangat nerjemahinnya. Thanks~
***
Previous | Table of Contents | Next
Comments
Post a Comment